GEOPOLITIK DAN HUBUNGAN INTERNASIONAL
Pada 2025 Indonesia akan menghadapi masa yang tidak mudah, karena baik di dalam negeri maupun di tataran global, situasinya “tidak sedang baik-baik saja”. Berbagai konflik militer dan ketegangan antar negara di sejumlah kawasan dunia – Timur Tengah, Eropa Timur, Asia Timur dan utamanya Asia Tenggara-, masih akan terus berlanjut di 2025 dan dampaknya juga dirasakan di dalam negeri. Dinamika geopolitik seperti ini perlu terus dicermati dan diwaspadai, namun demikian Indonesia tetap memiliki peluang untuk memanfaatkan dan berkontribusi dalam upaya penyelesaiannya.
Dalam dinamika global semacam itu, kerjasama antar negara yang dilakukan Indonesia tetap harus mengupayakan kemanfaatannya bagi kepentingan nasional yang mendesak, yaitu mewujudkan stabilitas politik dan ekonomi, serta keberlanjutan pembangunan di semua lini. Kerjasama bilateral perlu menjadi ujung tombak kebijakan luar negeri, utamanya dengan negara-negara “kunci”, dengan tetap berpegang pada prinsip bebas-aktif. Kerjasama multilateral perlu dilakukan secara terarah, terukur dan selektif dalam isu-isu global yang berdampak nyata bagi
pembangunan nasional. Sementara partisipasi Indonesia dalam penyelesaian konflik internasional perlu dilakukan berdasarkan daya ungkit nyata dan bukan sekadar gagah-gagahan, dan dilakukan berdasarkan pertimbangan realistis, rasional dan pragmatis. Semua upaya itu tentunya memerlukan formulasi kebijakan luar negeri yang utuh, cerdas dan bijak.***
Jakarta, 14 Desember 2024
Kata/frasa kunci: Minilateralism dan smart/creative alignment


