Event

― Advertisement ―

spot_img

Indonesia menapaki 2026 dengan stabilitas semu: Ujian Kepemimpinan Nasional

Press ReleasePERSPEKTIF AWAL TAHUN INSTITUT PERADABANIndonesia menapaki 2026 dengan stabilitas semu: Ujian Kepemimpinan NasionalTahun 2026 menempatkan Indonesia dalam sebuah paradoks besar: negara ini tampak...
HomeAktifitasPidato Peradaban : World  Disorder and the Future of Our Civilization

Pidato Peradaban : World  Disorder and the Future of Our Civilization

Jakarta, 30 Juli 2025. Seperti kita ketahui bersama, hari-hari ini kita warga dunia tengah dicekam oleh sejumlah ketidakpastian. Pemicu kecemasan global utamanya akibat dari konflik multidimensi – militer, sosial, budaya — di berbagai kawasan dan kemelut di sejumlah sektor ekonomi, di antaranya hubungan dagang antar negara, lalulintas keuangan, jasa transportasi, supply chain. Peradaban manusia memasuki masa turbulensi global. Tiang-tiang penopang peradaban goyah. Banyak negara saat ini berada di ambang kondisi negara gagal (failed states) akibat berbagai krisis yang berlangsung. Salah satu eksesnya adalah terus meningkatnya jumlah pengungsi (refugee) dari tahun ke tahun.

Sebulan yang lalu, titik konflik masih berada cukup jauh dari Indonesia. Tapi seminggu yang lalu, kita menyaksikan bara konflik itu sudah sampai di perbatasan Kamboja dan Thailand. Ini adalah peristiwa besar bagi Asia Tenggara, khususnya bagi organisasi ASEAN. Untuk pertama kalinya sejak 1967, sengketa sesama anggota ASEAN gagal diselesaikan lewat jalur konsensus dan pecah menjadi konflik bersenjata.

Institut Peradaban Inisiasi SBY Pidato di Forum Pidato Peradaban

Terkait hal itu, Pembina Yayasan Institut Peradaban, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH., MH, mengatakan Institut Peradaban adalah sebuah lembaga yang diniatkan ikut berperan dalam perjalanan bangsa ke arah peradaban yang lebih tinggi menyelenggarakan forum pidato peradaban.

Melalui forum ini, Institut Peradaban ingin mengirim pesan bahwa masih ada ruang untuk merajut dialog. Masih ada cahaya untuk menerangi kegelapan konflik. Jangan biarkan perang dan kehancuran menjadi takdir. Biarkanlah dialog menjadi pilihan, agar peradaban yang telah kita bangun selama ini bisa terwariskan.  Karenanya, Institut Peradaban mengundang Presiden ke-6 Republik Indonesia (2004-2014) Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, M.A untuk berpidato dalam forum dialog kebangsaan hari ini , Rabu 30 Juli 2025 di Ballroom Menara Bank Mega, Jakarta.

Saat SBY berpidato, beberapa Menteri dan Tokoh Nasional serta tamu undangan lainnya termasuk beberapa perwakilan kedutaan negara sahabat yang hadir  diacara ini mendengarkan dan menyimak ide pemikiran serta gagasannya terkait  tentang gejala “the world disorder”, tatanan dunia yang bergejolak, yang penting diantisipasi oleh kita semua dengan segala akibatnya dalam dinamika peradaban umat manusia, dimana Indonesia, mau tidak mau terlibat aktif di dalamnya.

Peradaban Indonesia maju sebagai bagian dari peradaban dunia yang berkembang, haruslah terus terlibat aktif dalam agenda kemanusiaan global. Pidato SBY sangat menarik dan menginspirasi semua pihak untuk berbuat sesuatu yang semakin baik untuk masa depan.

Lukisan Sebagai Sarana Diplomasi

Hal menarik lainnya saat berpidato kebangsaan, nampak pula dipamerkan 2 (dua) lukisan karya SBY di dalam Ballroom seolah mendampingi sang empunya, yang memaknai isi dari pidato itu, stop perang dan perdamaian, lukisan itu adalah (1). Stop War, United For Peace tahun 2025 berukuran 240 cm  X 140,5 cm (2). Peace With Nature tahun  2025 berukuran 300 cm x 150 cm.

Banyak pihak meyakini bahwa lukisan, tidak hanya bisa dinikmati sebagai suatu karya seni yang indah saja tetapi lebih dari itu, lukisan bisa menjadi alat diplomasi. Saat politik dunia dipenuhi ketegangan, seperti sekarang ini, seni bisa dijadikan sebagai alat diplomasi penting. Agar suasana bisa jadi lebih cair dan sudut pandang menjadi lebih lembut.

Ucapan Terimakasih

Kita menaruh hormat yang tinggi kepada SBY yang telah berhasil memimpin pemerintahan Indonesia pasca reformasi dengan gemilang, dan berhasil menghantarkan transisi yang mulus kepada pemerintahan selanjutnya, kepemimpinan Presiden ke-7, Ir. Joko Widodo (2014-2024). SBY berhasil mengakhiri tugas pengabdiannya dengan ‘husnul khotimah’, dan terus berkarya melalui kesenian, warisan-warisan kebudayaan, dan pemikiran-pemikiran kebangsaan, serta peranserta aktif dalam mempromosikan kebijakan perubahan iklim dan kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup yang sehat, serta kampanye kemanusiaan untuk perdamaian dunia yang berkeadilan.

Dalam pidatonya SBY tadi, seperti pernah terjadi pada pertengahan abad ke-20 yang lalu, setelah Perang Dunia ke-I, Great Depression pada tahun 1930-an, dan dilanjutkan Perang Dunia ke-III pada tahun 1940-an yang berakhir dengan terjadinya “big-bank change in the human history”, maka menuju pertengahan abad ke-21 nanti, besar kemungkinan akan terjadi lagi “another big-bank change in the world history” yang harus diantisipasi.

Mari kita mempersiapkan dengan segala langkah yang terukur untuk kepentingan peradaban Indonesia maju di tengah dinamika ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian yang abadi dan keadilan sosial.

Institut Peradaban berterimakasih kepada SBY yang telah hadir memenuhi undangan Institut Kebangsaan dalam forum pidato kebangsaan yang menginspirasi banyak orang utamanya terkait dengan gejala “the world disorder”, tatanan dunia yang bergejolak. Kepada para Menteri yang hadir dan para perwakilan kedutaan besar negara sahabat serta tamu undangan lainnya para tokoh nasional. Diucapkan terima kasih juga kepada  Bank indonesia, PNM , Aqua-danone, HK, Pelindo, PLN  dan PT. PAL yang turut menyukseskan acara ini.

“Kepada pak SBY, mari kita sama-sama ucapkan terima kasih atas pidatonya yang sangat inspiratif untuk khalayak yang luas, baik yang hadir disini maupun yang akan menyaksikan melalui pemberitaan-pemberitaan yang luas sesudah ini. Pak, SBY, it’s really a great lecture. Kami juga ucapkan terimakasih kepada para pendukung seperti ,”pungkas Prof. Jimly.